Ketua MPR RI: Dana Otsus Untuk Tingkatkan Mutu Pendidikan di Papua

on

Zonadunia.com – Ketua MPR Bambang Soesatyo mengungkapkan Dana Otsus untuk Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) akan terus diberikan hingga tahun 2041.

Jumlahnya ditingkatkan dari 2 persen menjadi 2,25 persen dari plafon Dana Alokasi Umum Nasional. Menjadikan dana Otsus Papua meningkat dari Rp. 7,6 Triliun pada tahun ini menjadi Rp. 8,5 Triliun untuk 2022, dilansir dari jpnn.com.

“Salah satu penggunaan dana Otsus ditujukan untuk peningkatan sektor pendidikan masyarakat di Tanah Papua,” kata Bamsoet dalam Kuliah Umum Kebangsaan di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari secara virtual dari Jakarta, Rabu (1/9).

Sepanjang 2020, Papua mendapat alokasi anggaran pendidikan Rp. 1,62 Triliun dari total dana Otsus Papua sebesar Rp. 5,29 Triliun. Sedangkan Papua Barat menerima sekitar Rp. 470 Miliar dari total dana Otsus Papua Barat Rp. 1,7 Triliun.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo atau Bamsoet saat berbicara di Kuliah Umum Kebangsaan di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Manokwari secara virtual dari Jakarta, Rabu (1/9). Foto: Humas MPR RI

“Namun Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaporkan mereka tidak pernah mendapatkan informasi tentang penggunaan dana Otsus Papua untuk sektor pendidikan tersebut. Karenanya peningkatan dana Otsus Papua harus dibarengi dengan transparansi penggunaan anggaran,” ujar Bamsoet. Di depan Ketua STIH Manokwari Filep Wamafma, 500 partisipan dari keluarga besar Civitas Akademika STIH Manokwari yang hadir di acara tersebut, Bamsoet menekankan, pendidikan merupakan landasan fundamental bagi kemajuan bangsa.

Melalui pendidikan akan lahir sumber daya manusia yang dapat diandalkan bagi pemajuan pembangunan nasional.

Karena itu kata Bamsoet, apresiasi perlu diberikan kepada STIH Manokwari sebagai salah satu entitas pendidikan tinggi di Papua, yang mengusung moto pendidikan merupakan faktor kunci bagi perlindungan, pemberdayaan, penghormatan, dan keberpihakan terhadap rakyat Papua.

“Namun harus diakui, keterbatasan akses pendidikan masih menjadi persoalan yang dihadapi banyak pemuda di berbagai wilayah nusantara, termasuk di Papua. Namun kondisi ini hendaknya tidak menyurutkan semangat untuk terus belajar dan berjuang,” tandas Bamsoet.

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini menambahkan, semua pihak dapat belajar dari para pemuda Papua yang berhasil mengukir prestasi membanggakan di tengah berbagai keterbatasan dan banyaknya tantangan yang harus dihadapi.

Contohnya Vanda Korisano dan Martha Itaar yang menjadi pilot Garuda Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan di Nelson Aviation College, Selandia Baru, dan di Sekolah Penerbangan Ganesha, Jakarta.

“Bob Royend Sabatino Kaway dan Thinus Lamek Yewi, pelajar SMA Advent Doyo Baru, Distrik Waibu, Desa Doyo Baru, Kabupaten Jayapura, yang berhasil mewakili Indonesia masuk tim penelitian NASA pada Maret 2016,” sebutnya.

Ada juga Septinus George Saa yang berhasil menjuarai kompetisi kelas dunia, First Step to Nobel Prize dalam bidang Fisika pada tahun 2004 saat masih menjadi pelajar SMA. Setelah tamat SMA, George melanjutkan studi dengan gelar sarjana dalam bidang Aerospace Engineering di Florida, Amerika Serikat, dan melanjutkan pendidikan S2 jurusan teknik material di Inggris.

Waketum Partai Golkar ini juga menyoroti pentingnya menjaga kemajemukan yang telah menjadi realitas sosial sekaligus fitrah kebangsaan yang tidak dapat diingkari dan dipungkiri. Keberagaman telah menghimpun dan menyatukan bangsa Indonesia dalam satu bahtera besar bernama Indonesia, yang menjadi ‘rumah bersama’ bagi lebih dari dari 270 juta rakyat Indonesia. Terdiri dari sekitar 1.340 suku, yang memiliki 733 bahasa, serta menganut 6 agama dan puluhan aliran kepercayaan. Masing-masing hadir dengan identitas budaya, kearifan lokal, keunikan, dan ciri khasnya sendiri.

“Dengan kemajemukan yang dimiliki serta kondisi geografis sebagai negara kepulauan dengan potensi kekayaan sumber daya alam yang melimpah, menempatkan Indonesia sebagai center of gravity bagi kepentingan komunitas global,” tegasnya.

Selain itu, kata Bamsoet, menjadikan bangsa ini dalam posisi rentan terhadap pengaruh dan infiltrasi asing. “Maka penghormatan terhadap nilai kebhinekaan dalam bingkai NKRI menjadi syarat mutlak untuk menjaga kedaulatan sebagai sebuah bangsa,” tegasnya kembali. Bamsoet menjelaskan, mengelola keberagaman bukan dimaknai dengan memaksakan keseragaman. Namun lebih pada penghormatan terhadap adanya perbedaan.

“Sebagai insan cendekia yang memiliki kompetensi akademis dan pemikiran analitis, mahasiswa adalah sumberdaya potensial yang diharapkan mampu menyikapi keberagaman dan menarasikan pentingnya merawat kebhinekaan dengan kedewasaan pemikiran,” papar Bamsoet.

Dia juga menegaskan, mahasiswa adalah agen perubahan yang dengan idealismenya harus mampu membangun kesadaran serta mempengaruhi dan memobilisasi masyarakat untuk senantiasa menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa sebagai prioritas keberpihakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s