AS Terancam Gagal Bayar Utang, Pasar Uang Global Akan Bergejolak

on

Zonadunia.com – Utang Pemerintah Amerika Serikat (AS) sebesar 28,4 Triliun Dolar AS atau setara dengan 405 Ribu Triliun Rupiah bila dikonversikan (asumsi kurs Dollar AS Rp. 14.276) terancam gagal.

Sampai saat ini Pemerintah AS mewaspadai hal tersebut. Diprediksi akan terjadi bencana ekonomi di negara tersebut dan berdampak terhadap global apabila mereka gagal meloloskan plafon atas batas utang sebelum 18 Oktober 2021.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, jika Kongres AS gagal dalam kesepakatan kenaikan batas utang, maka dampaknya akan menyasar pada gejolak di pasar keuangan global.

Image by Gerd Altmann from Pixabay
Ilustrasi (Image by Gerd Altmann from Pixabay)

“Permasalahan utang AS diperkirakan berdampak signifikan pada stabilitas pasar keuangan global, secara spesifik pasar keuangan domestik,” ujar Josua dikutip dari Tribunnews.com, Minggu (10/10/2021).

“Bila dilihat dari sejarahnya, permasalahan debt ceiling bukanlah yang pertama kalinya. Terakhir, pada tahun 2013, terjadi deadlock peningkatan debt ceiling juga, meskipun tidak berdampak signifikan pada pasar global,” sambungnya.

Menteri Keuangan Republik Indonesia (RI) Sri Mulyani juga sebelumnya tengah mewaspadai adanya berbagai isu dinamika perekonomian global yang berpotensi berdampak kepada perekonomian nasional.

Isu tersebut antara lain pembahasan plafon utang Pemerintah Amerika Serikat (AS) senilai 28,4 Triliun Dolar AS, dan juga permasalahan gagal bayar perusahaan pengembang properti asal China, yakni Evergrande.

Terkait masalah utang, Josua mengatakan sebenarnya adalah imbas dari alotnya komunikasi partai oposisi pemerintah yakni Republik, yang belum menyetujui rancangan undang-undang (RUU) penambahan plafon utang.

Padahal, rancangan undang-undang ini penting untuk mencegah pemerintah AS dari ancaman berhenti beroperasi karena masalah keuangan. Permasalahan plafon utang yang berkepanjangan seperti ini memicu sentimen negatif bagi para pelaku pasar.

Sehingga, para trader dan investor cenderung akan menarik modalnya dari instrumen berisiko dan beralih ke aset-aset yang lebih stabil.

“Permasalahan debt ceiling biasanya merupakan cerminan dispute dari kubu Demokrat dan Republik di parlemen,” papar Josua.

“Kondisi saat ini, pihak Republik sudah mulai menawarkan kompromi terhadap kubu Demokrat. Oleh karenanya, meskipun debt ceiling akan menjadi pemicu kenaikan sentimen risk-off di jangka pendek, di jangka panjang, debt ceiling cenderung tidak mengakibatkan krisis yang berkepanjangan,” pungkasnya.

Dilansir dari Tribunnews.com, pengamat Ekonomi sekaligus Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, kemungkinan AS akan gagal bayar utang sangat kecil.

“Hal tersebut karena kemampuan mencetak Dolar Amerika Serikat dan kepercayaan investor, perbankan terhadap Treasury bond (surat utang AS) masih tinggi,” ucap Bhima dikutip dari Tribunnews.com, Selasa (5/10/2021).

“Sekarang ini problemnya belum ada kesepakatan soal debt ceiling atau batasan utang yang diperbolehkan. Artinya, seberapa besar penambahan utang baru AS yang disetujui oleh kongres itu yang jadi perdebatan,” sambungnya.

Bhima juga membeberkan, apabila AS benar-benar tak bisa memenuhi kewajiban utang tersebut, maka dampak negatifnya akan dirasakan secara global.

Setelah krisis pandemi, bisa saja muncul krisis utang lagi, dan lebih dahsyat dari 2008. Karena tahun 2008 pemicunya adalah utang swasta, namun saat ini pemicunya adalah utang pemerintah.

Kemudian, dampak dari gagal bayar utang jika tidak diantisipasi akan memicu keluarnya dana asing dari negara berkembang seperti Indonesia. Karena investor mencari aset yang aman.

“Problemnya, surat utang AS dan Dolar AS itu kan selama ini safe haven aset, kalau runtuh trust-nya maka investor bisa lompat ke emas. Jadi modal keluar dari bursa saham, beralih ke instrumen emas batangan. Itu bisa jadi,” terang Bhima.

“Pelemahan nilai tukar Rupiah otomatis tidak bisa dihindari, cadangan devisa akan tersedot untuk stabilisasi Rupiah. Kinerja ekspor juga akan terpukul karena krisis utang membuat pemulihan ekonomi di negara mitra dagang Indonesia kembali terganggu,” pungkasnya.

Bertumpu ke Kongres

Sebagai informasi sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan pemerintah federal dapat melanggar batas utang 28,4 Triliun Dolar AS dan mengalami gagal bayar bersejarah.

Biden melanjutkan, hal tersebut dapat dikendalikan apabila Partai Republik bergabung dengan Demokrat dalam pemungutan suara untuk menaikkan plafon atau batas utang dalam dua minggu ke depan.

Senat Partai Republik, yang dipimpin oleh Pemimpin Minoritas Mitch McConnell, telah dua kali dalam beberapa pekan terakhir memblokir tindakan untuk menaikkan plafon utang.

Presiden Joe Biden mengatakan, mereka menginginkan tindakan tetapi tidak akan membantu dengan memberikan suara untuk langkah tersebut.

Partai Republik mengatakan Demokrat dapat menggunakan manuver parlementer yang dikenal sebagai rekonsiliasi anggaran untuk bertindak sendiri.

“Menaikkan batas utang berarti membayar utang kita, bukan sesuatu yang baru,” kata Biden seperti dikutip dari Reuters, Selasa (5/10/2021).

Biden juga tidak menjamin bahwa AS tidak akan melanggar batas utang. Intinya, nasib berada di tangan kongres.

“Tidak, saya tidak bisa (menjamin). Itu terserah Mitch McConnell,” ucap Biden.

McConnell selama berbulan-bulan telah mengatakan bahwa Demokrat harus menggunakan proses rekonsiliasi anggaran untuk menyiasati aturan filibuster Senat, yang mengharuskan 60 dari 100 anggota setuju untuk meloloskan sebagian besar undang-undang.

Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer, seorang Demokrat, telah menolak untuk menggunakan pendekatan itu, dan Biden pada hari Senin memohon agar Partai Republik tidak memblokir tindakan dengan filibuster.

Dalam sebuah surat terbuka kepada Biden, McConnell menegaskan kembali bahwa Demokrat tidak memerlukan kerja sama Partai Republik untuk meloloskan RUU untuk menaikkan plafon utang.

Sebagai informasi, pada akhir bulan lalu, Dewan Perwakilan Rakyat AS meloloskan dan mengirim ke Senat RUU untuk menangguhkan batas pinjaman keuangan hingga akhir 2022.

Diingatkan Yellen

Menteri Keuangan Janet Yellen pekan lalu juga telah memperingatkan anggota parlemen bahwa pemerintah Amerika Serikat akan kehabisan kemampuan pinjaman federal sekitar 18 Oktober.

Kegagalan untuk bertindak dapat memiliki konsekuensi ekonomi yang sangat buruk.

Bulan lalu Moody’s memperingatkan bahwa default dapat menyebabkan penurunan hampir 4 persen dalam kegiatan ekonomi, hilangnya hampir 6 juta pekerjaan, tingkat pengangguran mendekati 9 persen, aksi jual saham yang dapat menghapus 15 Triliun Dolar AS kekayaan rumah tangga dan lonjakan suku bunga hipotek, serta pinjaman konsumen dan utang bisnis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s